Cumi Tinta

October 31, 2008

Saya akui, kali ini tidak terlalu menyehatkan; tapi setidaknya kualifikasi mudah dan enak tetap berlaku.

Dulu zaman kuliah di Kanada, saya dan teman-teman dari Indonesia cenderung untuk masak sendiri dibanding harus beli makan di kantin. Ada beberapa alasan antara lain meragukan halalitas makanan di kantin/restoran. Selain itu, masak sendiri lebih irit. Salah satu menu favorit kami adalah nasi cumi tinta goreng.

Pada musim-musim tertentu, cumi tinta dijual dengan harga relatif murah, sekitar $2 (dolar Canadian yang nilainya sekitar 60-80% Amarican) per kardus dengan bobot 3 pound (sekitar 1,3 kg). Biasanya direstoran besar, cumi ini akan dibersihkan habis-habisan bahkan dikupas kulit luarnya terus dipotong-potong ke dalam bentuk cincin cumi yang putih bersih. Dengan perlakuan seperti itu, 50% bobot hilang terbuang. Bila saya yang masak, persiapan cumi cukup membuang “tulang”nya. Wujudnya seperti pita plastik bening yang keras tertanam di punggung cumi. Membuangnya mudah. Cari ujungnya yang bisa ditongolkan dikit dengan menekan bagian punggung  dan cabut pelan-pelan jangan sampai patah. Kalau patah, terpaksa daging cumi harus dibelah untuk mengambil sisanya.

Bagian dalam perut perlu dibersihkan. Sebenarnya cukup dicuci ala kadarnya, tetapi lebih baik di belah saja perpanjangan pangkal kepala yang masuk ke badang cumi itu dan dibuang isi perutnya. Kalau cuminya cukup besar, akan bisa ditemui ikan kecil-kecil di situ. Beberapa teman membiarkan posisi cumi begitu saja. Saya sering membenamkan seluruh bagian kepala, termasuk tangan-tangannya, kebadang cumi sehingga kelihatan rapi.

Ada banyak cara masak cumi tinta. Setahu saya, semua jenis cumi bertinta. Yang saya maksud dengan cumi tinta di sini adalah cumi yang tidak dibuang tintanya. Cara paling mudah dan dijamin menghasilkan teman nasi yang super lezat adalah dengan mengungkepnya di wajan. Tidak ada bumbu aneh-aneh; cukup bubuhkan garam, minyak goreng (sekitar dua-tiga sendok makan/setengah kilo cumi) dan cuka (satu dendok makan per setengah kilo cumi).

Tau cara masak ungkep? Diungkep itu artinya dipanaskan dengan api sedang dan ditutup. Saya gunakan tutup kuali biasa di atas wajan. Yang penting semua masakan tertutup meskipun tutupnya tidak rapat kedap. Dengan ungkep, sebagian uap air dari masakan akan mengembun dan kembali menetes kebawah menyebabkan masakan tidak cepat kering (asat). Cumi-minyak-garam-cuka diungkep selama 15 menit. Setelah itu singkirkan tutupnya. Gunakan api tinggi untuk mengasatkan “kuah” yang terakumulasi selama proses ungkep.  Aduk-aduk terus supaya tidak gosong sampai kuah mengering, meninggalkan kumut tinta hitam pada badan cumi. Setelah kuah mengering, cumi akan terselimuti minyak goreng seperti digoreng. Jangan biarkan mengering seperti tergoreng. Cari kondisi sesuai selera, angkat dari api, cumi siap dihidangkan.

Tidak pernah gagal, dijamin super lezat. Anak-anak bahkan bisa menghabiskan nasi sepiring hanya dengan mengoleskan kumutnya saja di nasi. Setelah cumi tersantap habis keluarga, giliran saya memasukkan sepiring nasih di wajan bekas masak cumi tinta itu. Aduk rampai rata, jadilah nasigoreng kumut cumi tinta yang ajiib atau maknyus kata para presenter wisata kuliner di TV.



2 Responses to “Cumi Tinta”

  1.   winda Says:

    Waaah, Bapak punya banyak resep praktis nih, patut dicoba! :)

  2.   makhrus Says:

    nama cumi ya enak Pak….dimasak apa aja enak…slurp….

Leave a Reply